Peringatan 1 Suro 1952 di Petilasan Sri Aji Jayabaya

Keterkenalan Kerajaan Kediri tidak dapat dilepaskan dari kemasyuran pemimpin yang memerintah. Karena tidak dapat disangkal, seorang raja berkat kekuasaannya mempunyai peran penting dan ikut menentukan kehidupan rakyatnya. Berdasarkan bukti sejarah berbentuk tulisan kuno (prasasti), raja yang memerintah Kediri dan paling berpengaruh adalah Raja Sri Adji Jayabaya.

Berdasarkan cerita rakyat inilah masyarakat meyakini Raja Kediri tidak meninggal melainkan muksho (menyatu dengan alam). Sri Aji Jayabaya mampu memerintah Kediri hingga mencapai masa keemasan, yaitu tahun 1135 M – 1143 M. Oleh karena itu, maka tiap tahun diadakan Upacara Ritual 1 Suro di Petilasan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya untuk mengenang keluhuran dan kebesaran nama beliau.

suro 2

Seperti pagi tadi, para sesepuh, pinisepuh dan aji sepuh Desa Menang bersama dengan Yayasan Hondodento Yogyakarta mengadakan Ritual Kirab 1 Suro. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, para peserta ritual diarak dengan rute mulai dari Balai Desa Menang Kec. Pagu sampai tempat Pamoksan Sri Aji Joyoboyo kemudian finish di Sendang Tirto Kamandanu. Kirab ini dilaksanakan hari ini Selasa (11/9), mulai pukul 09:00 WIB sampai selesai.

Suratin juru kunci Sendang Tirto Kamandanu mengatakan ritual kirab ini merupakan acara tahunan. “Pesertanya sebagian besar warga Desa Menang dan sekitarnya serta perwakilan Hondodento Yogyakarta. Yang membawa bokor tabur bunga dan caos dhahar syaratnya perawan yang masih kecil dan suci belum haid berjumlah 16 anak. Sedangkan lainnya perawan yang tidak sedang berhalangan (haid),” terangnya.

suro 3

Ditemui di tempat yang sama, Adi Wahyono seorang budayawan dan warga asli Desa Menang menceritakan dari dimulai kirab sudah ada patokan tersendiri dalam adat momen sakral. “Seperti dibuka dengan lima cucuk lampah putri sebagai pembuka. Kebaya merah yang digunakan adalah simbol keberanian masyarakat Kediri dan pemimpinnya dalam menghadapi segala tantangan di masa depan. Selain itu ada pantangan juga disini seperti tidak diperbolehkan menggunakan batik Parang. Dan saat upacara memasuki area petilasaan, semua wajib menggunakan pakaian adat,” kata Adi.

suro 4

Animo masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan kirab ini, yang datang juga cukup banyak. Selain masyarakat sekitar juga ada yang dari luar kota seperti Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan dari luar provinsi seperti Bali. Tak sedikit di antara mereka mengikuti upacara adat tradisi ataupun sekedar menyaksikan momen sakral yang digelar setiap tahun ini. (Kominfo/evy,dn,tj,wk)