Monday, 15 October 2018
Logobar1

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

Jl. Soekarno-Hatta No. 1 Kediri Telepon: 0354 689901-5

Kangen-Kangenan Sambil Jajan Arbanat

Ada satu jajanan tradisional di Kediri yang sudah jarang kita temui. Namanya adalah arbanat. Orang sering menyebut nama jajanan ini yaitu rambut nenek. Dikatakan begitu karena penganan ini mempunyai tekstur bersulur-sulur panjang seperti layaknya rambut.

Makanan ini juga aman dikonsumsi karena tidak menggunakan kimia dan pengawet. Bahan yang digunakan juga sederhana, hanya gula, tepung maizena dan jahe.

Di Kediri jajanan ini masih dapat Anda temui rutin hadir di car free day Pare. Tepatnya di pertigaan depan Toko Rajawali, Kelurahan Pare, Kecamatan Pare.

Seperti saat ditemui Tim Kominfo di lokasi tersebut, Minggu (9/9). Muji Santoso, sang penjual arbanat, mengatakan olahan ini masih disukai oleh pembeli kendati sekarang sudah banyak jajanan modern. Ini terbukti setiap hari ada 50 hingga 60 porsi arbanat yang laku terjual.

arbanat 2

“Setiap hari keliling mulai wilayah sini sampai Kota Kediri. Bila akhir pekan saya di Kepung dan Pare. Bila hari biasa di wilayah Gudang Garam dan Kota Kediri,” jelas pria warga Desa Wonorejo, Kecamatan Puncu ini.

Muji selanjutnya menuturkan, penjual arbanat seperti dirinya di Kediri saat ini tinggal dua orang. Satu lagi adalah kawan Muji yang juga sudah berusia lanjut dan berjualan di area barat Sungai Brantas.

“Dulu saat tahun 1989 saat saya memulai usaha ini banyak yang jualan. Sekarang tinggal dua orang. Lha gimana anak saya juga tidak minat meneruskan usaha ini. Malu katanya, hehehe” tutur Muji sembari tertawa.

Padahal omset usaha ini sebetulnya cukup bagus. Dijual Rp. 5.000,- per sajian, Muji bisa membawa pulang uang 200 ribu hingga 300 ribu rupiah perhari. Tentunya ini omset yang cukup impresif di tengah gempuran jajanan modern.

arbanat 3

Satu yang khas menjadi ciri khas jajanan arbanat yakni penjualnya selalu memainkan lagu Jawa dengan alat musik tradisional rebab. Ini merupakan cara yang terbukti sukses dalam menawarkan dagangannya.

“Sudah ciri khas. Arbanat memang memainkan musik rebab. Mungkin ini alasan kenapa pemain baru tidak mencoba jualan ini. Karena memang lucu, kadang orang beli makanan ini karena ingat jaman kecil dulu minta dibelikan jajan ini trus duduk diem di sini liat saya main rebab. Ndak mau diajak pulang, hehehe,” ujar Muji.

"Beberapa pembeli banyak yang cerita gitu. Pak, kalau saya beli ini inget jaman kecil dulu beli jajan ini karena seneng liat maen rebab. Sekarang anak saya sudah SMP. Gitu katanya,” kenang Muji. (Kominfo/yda,tj,wk)

Add comment


Security code
Refresh

banner