Kamis, 17 Agustus 2017

Batik Tulis Bu Anik

IMG 2597Geliat perajin batik di tengah arus persaingan pasar

Tumbuh dan berkembang tidak dari kota budaya, perajin batik harus memiliki effort lebih dalam menjaga eksistensinya. Dengan mengangkat potensi yang ada di wilayahnya, ikon – ikon batik pun semakin beragam.

Kediri salah satunya, meskipun terkenal sebagai kota tahu tidak menutup kemungkinan perajin batik pun bermunculan. Batik tulis Bu Anik adalah UKM yang dulunya memulai debutnya di bidang fashion painting.

Budi Irianto, Pemilik UKM Batik Tulis Bu Anik menceritakan fashion painting dilakoninya sejak 2001 silam yang diaplikasikan di baju, kerudung dan lain-lain. Baru kemudian 2009 ada himbauan dari ketua Dekranasda setempat agar mengembangkan batik, terlebih di tahun 2008 batik memang mulai menggeliat.

“Kami pun para perajin batik yang ada di Kabupaten Kediri diarahkan untuk mengikuti pelatihan batik. Dari 40 peserta pada saat itu, ada 35 orang yang eksis membatik hingga saat ini. Meskipun pada akhirnya kami focus mengembangkan produk batik, ketika ada pesanan untuk painting ya tetap kami layani,” Ungkap Budi.IMG 2602

Dalam menjalankan usahanya, Budi juga menerima anak usia sekolah yang ingin belajar membatik. “Biasanya mereka mendapat tugas membatik dari sekolah, mereka mengerjakannya sampai pada tahap menggambar motif yang selanjutnya kami membantu untuk proses canting dan finishing, karena mereka tentu belum memiliki keahlian khusus dan jam terbang untuk itu,” Jelas Budi.

Batik saat ini semakin berkembang dan beragam. Motif dan corak pun kerap kali menjadi ikon sebuah wilayah. Kabupaten Kediri mengusung Mangga Podang Gunung sebagai ciri khasnya.

“Selain itu juga ada markisa, kuda lumping namun yang paling khas adalah Mangga Podang Gunung, konon merupakan hasil bumi Kabupaten Kediri yang hanya ada di barat Sungai Brantas,” Terang Budi.

IMG 2589“Biasanya motif mangga podang gunung tersebut diwarna dengan warna merah, mewakili karakter mangga yang ada di barat sungai itu berwarna kemerahan,” tambahnya.

Kini Budi mampu memiliki 30 tenaga kerja meskipun yang datang setiap harinya hanya 5 – 6 orang karena biasanya memang bisa dikerjakan di rumah masing-masing sebagai tenaga borongan. Setiap bulannya, Batik Tulis Bu Anik mampu memproduksi maksimal 150 lembar dengan harga untuk setiap produknya mulai 125 ribu rupiah hingga 400 ribu rupiah.

Usaha yang sudah berjalan 6 tahun tersebut mengaplikasikan pewarna kimia dan juga pewarna alam pada produksi batiknya. Sedangkan untuk pemasaran karena saat ini memang sedang trend melalui pemasaran online, Budi masih sebatas menggunakan surat elektronik dan media sosial sebagai media promosi, belum memiliki website sendiri.

IMG 2588Budi mengaku kerap mengalami kesulitan dalam pemasaran. Selama ini pemerintah menggemborkan prinsip ‘Aku Cinta Produk Indonesia’ namun dalam semangat tersebut belum sampai pada membuat masyarakat greget untuk selalu membeli produk local terutama batik. “Karena memang dirasa harga memang tinggi, kami pun tidak mungkin menurunkan harga karena memang proses yang dilalui pun tidak sederhana,” Katanya.

“Apalagi untuk daerah sini memang dikenal bukan daerah penghasil batik seperti Solo, Pekalongan di Jawa Tengah yang tentunya sudah membludak sekali. Namun kami berkeyakinan from zero to hero, ini bisa menjadi semangat untuk terus berkembang,” imbuhnya menutup perbincangan.

Sumber : Majalah Media Info KUMKM Edisi 9 Tahun 2015

Batik Tulis Bu Anik

Jl. Dadapan 275 Ngasem Kediri

Telp. (0354) 547415 Hp. 081 335 817 071

Comments   

 
0 #2 SriAnik 2016-06-21 14:02
Batik Asli karya Ibu-Ibu diDadapan SLG. Mencipta Kerja Memberdayakan Wanita di Desa. Terimakasih tlh dimuat di Website
Quote
 
 
0 #1 SriAnik 2016-06-21 13:59
Dng batik Asli karya Ibu-Ibu mencipta Kerja memberdayakan Ekonomi Wanita di Desa.Terimakasi h
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Liputan UKM