Wednesday, 26 June 2019
Logobar1

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

Jl. Soekarno-Hatta No. 1 Kediri Telepon: 0354 689901-5

Berawal Dari Mahalnya Pupuk Pupuk Subsidi, Desa Kencong Kembangkan Padi Organik

Kelangkaan pupuk bersubsidi empat tahun lalu membuat petani di Desa Kencong, Kecamatan Kepung gelisah. Tak patah arang, hal itu mampu menjadi pelajaran bagi petani dan pemerintah desa. Mereka mengembangkan alternatif lain dengan mengandalkan pupuk organik hingga menjadi pertanian yang mandiri.

Hamparan padi terlihat hijau dan saat kita melintas di areal persawahan Desa Kencong. Sejumlah padi juga mulai merunduk, tanda bahwa padi itu sudah memasuki masa vegetatifnya. Namun ada yang berbeda pada padi-padi tersebut, terbagi dalam plot-plot dengan papan besar bertuliskan 'Padi Konversi Organik kerjasama Bumdes dengan Kelompok Tani Mulur'.

Ya, padi tersebut adalah tanaman organik yang dikembangkan oleh kelompok tani (Poktan) dan Pemerintah Desa (Pemdes) Kencong. Pengembangan ini sudah dilakukan sejak empat tahun yang lalu. Dimana saat itu petani kebingungan karena faktor mahalnya pupuk bersubsidi yang langka. Akhirnya ada sosialisasi dari petugas penyuluh lapang (PPL) terkait penanggulangan kelangkaan pupuk dengan pembuatan pupuk organik. Terutama dengan cara membuat kompos dari kotoran ternak.

"Kotoran ternak ini sangat murah dan mudah ditemukan di sini," kata Kepala Desa Kencong Nurhadi Wiyono, (26/12).

Selain itu, dukungan dari pemdes untuk mengembangkan alternatif ini juga sangat besar. Setiap satu bulan sekali selalu diadakan pelatihan. Pemdes mendatangkan PPL dan juga tim ahli. Memang awal-awal pelatihan tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak sekali permasalahan yang menimpa petani. Menurut Wiyono, dalam mengenalkan pertanian berbasis organik pada Poktan membutuhkan proses yang panjang. Pasalnya perubahan sistem budidaya dari padi konvensional ke organik itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Awalnya hasil tanaman tidak seperti yang diharapkan. Terutama dalam pemasarannya yang sulit," ujarnya.

Hal ini lantaran harga beras organik bisa mencapai dua kali lipat dibanding beras biasa. Tak hanya itu, kondisi gagalnya panen padi juga kerap terjadi.

"Namun itu masih didukung dengan harga jual beras organik yang mencapai 2 kali lipat. Itulah yang membuat kelompok tani semakin semangat," jelasnya.

padi 2

Meski demikian, tak ada kata menyerah bagi mereka. Proses budidaya padi organik masih terus berlanjut. Bahkan hingga masa-masa sulit itu berlalu, 2 tahun berjalan.

Wiyono menyebut, pengembangan padi organik oleh Poktan di Desa Kencong telah bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), terutama untuk Poktan yang berpengalaman. Pastinya dengan sinergi ini Pemdes berharap budidaya padi organik semakin berkembang lagi. Dimana selama ini lahan pertanian milik Bumdes Kencong disediakan untuk kepentingan Poktan padi organik.

Tak hanya Bumdes, Poktan juga bekerjasama dengan pondok pesantren dan panti asuhan di Desa Kencong. Hingga sekarang beras organik yang dihasilkan dari Desa Kencong pun banyak permintaannya, bahkan ketersediaan untuk mencukupi pasar pun kerap kurang.

Sementara Ali Maksun, salah satu petani yang juga anggota Poktan Mulur Desa Kencong menyampaikan bahwa untuk menanamkan kesadaran petani untuk ikut bertanam padi organik itu sangat sulit. Ia selama ini sudah menggandrungi budidaya padi dengan sistem organik karena alasan kesehatan.

"Dulu saya sakit lambung lama. Ternyata makan nasi dari beras organik lama-kelamaan sakitnya bekurang," terangnya.

Petani sekaligus guru MTs itu menyebut bahwa dengan cara konvensional akan banyak kandungan bahan kimia yang bisa merusak lingkungan. Bahkan hal itu pastinya bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Dia pun berharap, baik petani maupun poktan bisa lebih melirik beras organik. Selain hasil yang lebih menguntungkan, dari segi kesehatan juga sangat baik.

Petani lain, Budi Agus Santoso menyampaikan bahwa petani organik itu adalah petani yang mandiri, karena tidak mengandalkan pupuk bersubsidi. Bahkan para petani organik siap kalau pupuk subsidi dicabut karena selama ini kita tidak ketergantungan dengan pupuk subsidi dan pestisida.

"Untuk pestisida kami manfaatkan pestisida hayati yang diracik sendiri dari tanaman dan rempah," tegasnya.

Alhasil dari perjuangan Pemdes dan Poktan Desa Kencong selama ini, mereka mendapat penghargaan Anugerah Desa kategori pengelolaan pertanian terbaik se-Kabupaten Kediri. Desa Kencong pun mengucap terima kasih kepada Bupati Kediri yang telah memberi apresiasi kepada kelompook tani. Juga kepada Jawa Pos Radar Kediri yang mensukseskan anugerah desa ini. Mereka berharap pemerintah tidak lelah memberi semangat dan support kepada stakeholder atau pelaku-pelaku usaha di bidang pertanian, khususnya di bidang produksi beras organik. (Kominfo/lks,tj,wk)

Add comment


Security code
Refresh