Selasa, 31 Mei 2016
Logobar1

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

Jl. Soekarno-Hatta No. 1 Kediri Telepon: 0354 689901-5

Seni Budaya

JARANAN/KUDA KEPANG

Kesenian jaranan atau dengan nama lain Kuda Lumping dan Kuda Kepang merupakan kesenian khas Kediri, kesenian ini berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Kediri, seni jaranan merupakan bentuk kesenian yang menggambarkan tentang kegagahan pasukan berkuda masa kerajaan yang bertugas membasmi keangkaramurkaan.
jaranan

Seni jaranan ini menggunakan peralatan tari berupa, kuda kepang (kuda yang terbuat dari anyaman bambu), bentuk celeng (babi hutan), dan topeng Caplokan.
Dalam frame penampilannya, penari jaranan akan tampil pertama kali dan menari menggunakan kuda kepang dengan diiringi instrument gamelan.

Gerak tari yang ditampilkan merupakan gerak dinamis yang sesuai dengan irama gamelan pengiringnya. Penampilan selanjutnya muncul sosok penari Caplokan dari penari babi hutan sehingga terjadi pertarungan diantara ketiganya.
Pada puncak tariannya, para pemain jaranan akan mengalami trance sehinggan melakukan atraksi menakjubkan dan tidak bias dilakukan oleh manusia biasa, atraksi-atraksi tersebut antara lain : memakan pecahan kaca, berjalan diatas api, dst.

Penari-penari biasanya akan didampingi oleh seorang Gambuh yaitu pawing seni ajaran yang bertugas mengobati penari agar sembuh dari trance-nya dan dapat normal kembali. Di Kabupaten Kediri terdapat beberapa jenis jaranan antara lain

  • Jaran Senterewe

Jaranan senterewedalam penampilannya seninya lebih mengutamakan kreatifitas gerak, kekayaan serta kepadatan gerak. Iringan gamelan yang ditampilkannya juga lebih riang dan dinamis, jaranan senterewe ini merupakan jaranan yang banyak digemari oleh masyarakat karena pada masa penampilannya biasanya akan diikuti dengan penampilan hiburan modern berupa lagu-lagu yang bernada diatogis yang dibingkai dalam musik-musik campursari, dangdut, dll.

  • Jaranan Pegon

Jaranan pegon sedikit memiliki persamaan dengan jaranan senterewe yaitu memiliki kreatifitas gerak serta iringan yang dinamis. Yang menjadi pembeda dari jaranan pegon dalah pemakaian asesoris dan busananya yang lebih meriah dan cenderung seperti busana yang digunakan dalam pentas seni wayang orang. 

  • Jaranan Dor

Jaranan Dor merupakan jenis jaranan yang ditarikan dengan unsur humor, pada penampilannya tidak jarang pemain jarana dor akan melakukan aksi-aksi lucu yang akan mengundang tawa penontonnya. Gerak tari dan musik pengiringnya tidak jauh berbeda dengan jenis jaranan lainnya. Yang menjadi pembeda seni jaranan dor dengan jaranan jenis lainnya adalah alat musik Gong dalam instrument gamelannya diganti dengan alat musik Bedug.

  • Jaranan Jowo

Jaranan Jowo pada dasarnya merupakan jenis/memiliki klasifikasi SEBAGAI jaranan klasik, gerak tari Jaranan Jowo terlihat lebih mantap dan berbot sehingga terlihat kurang dinamis. Dalam penampilannya kesan pertama yang muncul terhadap Jaranan Jowo adalah adanya unsur magis, ini akan lebih kental terlihat dalam gerak tari serta kesederhanaan busana serta peralatan yang digunakannya. Pada puncaknya penari Jaranan Jowo ini akan mengalami trance dan beratraksi yang menakjubkan

img_0640.jpg

SEBAGAI SALAH SATU TUJUAN WISATA BUDAYA, KAB. KEDIRI MENAWARKAN BERAGAM KESENIAN KHAS DAERAH YANG DAPAT DINIKMATI WISATAWAN, BAIK MANCANEGARA MAUPUN DOMETIK.


 

Ragam kesenian di Kabupaten Kediri tentunya tidak lepas dari sejarah kerajaan Kediri.Beberapa kesenian khas daerah yang dapat dinikmati wisatawan antara lain Seni Jaranan, Seni Tiban, Seni Reog, Seni Qosidah, Seni Tayub, Seni Campursari, Seni Ludruk, Seni Wayang Orang, Seni Wayang Kulit, Seni Atraksi Akrobatik, Debus, Seni Sanggar Tari Tradisional dan Tari Atraktif, serta Seni Bantengan.

Diantara sekian banyak kesenian yang ditawarkan, yang paling menarik adalah atraksi manusia dan King Cobra yang pada puncaknya,sang penakluk mencium buaya dan King Cobra.

Selain itu jaranan juga merupakan kesenian khas daerah Kediri yang sangat populer.Kesenian Jaranan menyuguhkan berbagai atraksi menarik yang kadang mampu membangkitkan rasa takjub.Atraksi gerak pemain dengan diiringi tabuhan gamelan serta sesekali diselingi unsur magis menjadikan kesenian ini layak ditonton.

Di Kabupaten Kediri terdapat beberapa kesenian Jaranan yang dapat dinikmati diantaranya Jaranan Senterewe, Jaranan Pegon, Jaranan Dor, dan Jaranan Jowo. Jaranan Jowo merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mengandung unsur magis dalam tariannya. Dimana pada puncaknya penari akan mengalami TRANCE (kesurupan) dan melakukan aksi berbahaya yang terkadang di luar akal manusia.

Sedangkan Jaranan Dor, Jaranan Pegon, dan Jaranan Senterewe lebih mengedepan kan kreatifitas gerak dengan iringan musik yang dinamis. Jaranan Senterewe merupakan jaranan yang digemari, karena dalam penampilannya selalu disertai hiburan lagu-lagu yang bernada diatonis. Seluruh kesenian jaranandi Kabupaten Kediri berada di bawah naungan Paguyuban Seni Jaranan (PASJAR) Kabupaten Kediri.

SENI TIBAN

Seni Tiban menampilkan aksi penari yang saling mencambuki tubuh mereka sampai berdarah sebagai bentuk pengorbanan dan ritual untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa. Diyakini oleh masyarakat setempat darah yang keluar dari tubuh penari akan jatuh menimpa bumi dan mampu mendatangkan hujan.

Tiban muncul ketika kerajaan Kediri mengalami bencana kekeringan. Saat itu Raja Kertajaya meminta rakyatnya mau melakukan pengorbanan agar segera dibebaskan dari bencana. Upacara pengorbanan ini dilakukan di bawah terik matahari dengan jalan menyiksa diri dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren. Cucuran darah yang keluar dari tubuh rakyat sebagai wujud persembahan inilah yang kemudian dianggap mampu mendatangkan hujan di bumi.Hingga saat ini upacara minta hujan masih berlangsung karena diyakini mampu menghindarkan rakyat Kediri dari bencana kekeringan.

D E B U S

Ketrampilan pemain dalam menunjukkan seni akrobatik maupun unsur kekebalan tubuhnya merupakan daya tarik kesenian ini. Dalam debus atraksi yang ditampilkan adalah pemain yang berguling-guling di atas pecahan kaca di gantung di tiang dengan hanya menggunakan seutas tali serta diseret dengan menggunakan kendaraaan berkecepatan tinggi. Bahkan beberapa diantara pemain adapula yang memakan pecahan kaca maupun bermain-main dengan kobaran api.

budaya-2.jpg
 img_0360.jpg
 budaya-4.jpg
 img_0599.jpg