Mabes TNI Kunjungi Al Falah Ploso

Mabes TNI melalui Kepala Pusat Pembinaan Mental, Kapusbintal TNI, Laksamana Pertama Budi Siswanto, mengunjungi Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Selasa (2/4). Kunjungan ini diterima langsung oleh Pengasuh Pondok Al Falah Ploso, KH Zainuddin Djajuli dan Asisten II Pemkab Kediri, Mamiek Amiyati.

Dalam kesempatan ini, Budi memberikan kuliah umum mewakili Panglima TNI yang berhalangan hadir kepada ribuan santri putra Ponpes Al Falah Ploso. Materi yang disampaikan adalah terkait wawasan kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam paparannya, Budi menyampaikan negara Indonesia menunggu sentuhan tangan anak negeri agar menjadi negara yang kemakmurannya dapat dinikmati rakyat Indonesia. Oleh karena itu, menjadi tantangan pemuda kedepan bagaimana memanfaatkan sisi positif revolusi industri 4.0 dan mengantisipasi serta mencegah dampak negatifnya.

mabes 2

“Negara Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas hingga pulau Rote. Laut kita kaya mineral dan hayati. Mutiara terbaik di dunia berasal dari Indonesia. Dataran, gunung hingga perairan kita kaya sumber daya. Kekayaan alam itu menunggu diolah anak negeri demi kesejahteraan rakyat Indonesia,” jelasnya.

“Dengan revolusi industri 4.0, kemajuan teknologi selain membawa kemajuan juga harus diantisipasi. Masalah yang muncul seberti ujaran kebencian, berita bohong dan lingkungan hidup. Contoh paradox dunia kini hadapi masalah plastik sebany 177 juta ton pertahun. Pada tahun 2050 diperkirakan jumlah sampah plastik menjadi berkali-kali lipat dari seluruh ikan di laut,” terangnya.

Namun pada tantangan ini nyatanya anak kita melihat peluang dan memiliki potensi. Misal pemuda dari Bali yang mengembangkan plastik dari singkong. Dimana singkong kita jumlahnya banyak, aman karena larut dalam air, dan dapat terurai di tanah. Bahkan kini pemasarannya sudah menjangkau Australia,” tambahnya.

mabes 3

“Artinya, mari semua potensi kita manfaatkan bagi umat dan kesejahteraan, bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar. Pengolahan SDA lebih optimal bila kita bersatu. Kita punya ratusan suku agama dan budaya. Perbedaan seharusnya jadi kekuatan karena saling mengisi dan melengkapi. Itulah pendiri mengambil semboyan Bhineka Tunggal Ika,” pungkasnya. (Kominfo/yda,lks,fz,tee,tj,wk)