Saturday, 15 August 2020

Akibat Corona, Perayaan Nyepi Tanpa Pawai Ogoh-Ogoh

Perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu Tahun Caka 1942 di Kabupaten Kediri tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Akibat pandemi corona, Pemerintah Daerah saat ini melarang adanya keramaian massa untuk menghindari penyebaran dan memutus rantai penyebaran Covid-19.

Namun umat Hindu tetap diperbolehkan untuk membuat ogoh-ogoh. Patung raksasa tersebut menggambarkan sumber angkara murka yang harus dibumihanguskan dari dunia ini. Untuk teknis perayaan Nyepi, biasanya ogoh-ogoh terlebih dahulu diarak atau pawai sebelum dibakar. Namun kali ini, perayaan pawai ditiadakan dan ogoh-ogoh langsung dibakar di depan pura.

April selaku pembuat ogoh-ogoh mengatakan, proses pembuatan ogoh-ogoh berukuran tinggi 8 meter dan lebar 3 meter ini memakan waktu hingga 1,5 bulan. “Untuk bahan dasar yakni besi beton sebagai pondasi atau kerangka ogoh-ogoh. Kemudian dilapisi menggunakan karung semen yang telah direndam dan diberi lem agar lebih kuat,” jelasnya (23/3).

Sebagai wujud keprihatinan umat Hindu di Desa Sekaran Kecamatan Kayen Kidul atas mewabahnya virus corona, setiap patung ogoh-ogoh yang berwujud buto terdapat tulisan virus corona. Harapannya virus tersebut segera lenyap dari permukaan bumi seiring dibakarnya patung ogoh-ogoh. Di desa ini warga membuat 6 patung ogoh-ogoh dengan ukuran terkecil 2 kali 4 meter, hingga ukuran raksasa 8 kali 3 meter.

Untuk perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1942 di Desa Sekaran Kecamatan Kayen Kidul ini akan dilaksanakan pada Selasa 24 Maret 2020 di Pura Agung Sastra Dwi Jendra. (Kominfo/fd,tee,tj,wk)

Add comment


Security code
Refresh

banner