Saturday, 15 August 2020

Penemuan Situs Kuno, Sebuah Petirtaan Abad 12-14

Sebuah struktur bangunan kuno berupa petirtaan di Dusun Kebonagung, Desa Brumbung, Kecamatan Kepung perlahan-lahan telah menampakkan wujudnya. Tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur memulai ekskavasi tahap pertama tanggal 13-17 Juli 2020 lalu.

brumbung 1

Pada ekskavasi tahap pertama tersebut tim telah berhasil menemukan 4 jaladwara atau pancuran air kuno yang masih menempel. Penemuan ini menjadi sangat penting karena juga ditemukan 2 buah prasasti yaitu prasasti Geneng 1 yang berasal dari Bameswara masa Kerajaan Kadiri abad 12 dan prasasti Geneng 2 Tribuana Tungga Dewi masa Kerajaan Majapahit abad 14.

Dari 2 prasasti tersebut kita ketahui bahwa tempat ini merupakan lokasi peribadatan bangunan suci yang penting, mulai masa Kerajaan Kadiri hingga masa Kerajaan Majapahit. Dan hari ini merupakan ekskavasi tahap kedua yang dimulai tanggal 21-27 Juli 2020 dan kami berhasil menemukan pintu masuk petirtaan di sisi barat, jelas Wicaksono arkeolog BPCB, (22/7/20).

TIM BPCB juga menemukan beberapa arca yaitu Dwarapala, Arca Yoni dan Arca Kepala Kala. Dengan penemuan tersebut tim dapat mengintepretasikan bahwa petirtaan ini merupakan bagian kompleks percandian yang lebih besar yang sampai saat ini masih belum ditemukan.

Harapan besar kami kedepannya dapat menemukan sebuah komplek percandian yang merupakan simbul sejarah masa kuno dari Kerajaan Kadiri dan Majapahit yang telah terkubur akibat aktivitas erupsi Gunung Kelud. Tercatat dalam badan geologi Indonesia, letusan besar Gunung Kelud pernah terjadi dan menenggelamkan daerah-daerah di sekitarnya,” lanjutnya. Menurutnya ini juga sebagai bukti bahwa Kediri itu tanahnya subur yang juga menjadi peradaban pada masa-masa kuno.

brumbung 2

Tahap kedua ekskavasi ini fokus kami adalah untuk memperjelas bukaan petirtaan yang tertimbun. Kita juga akan menata lingkungan ini supaya tidak terjadi tanah longsor dengan membuat talut-talut untuk menjaga agar saat musim hujan tanahnya tidak merusak cagar budaya ini,” katanya.

Sementara itu Yuli Marwantoko, Kapala Bidang Sejarah dan Purbakala, mengatakan, pada ekskavasi kedua ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kediri meminjam alat dari Dinas Pekerjaan Umum untuk mempercepat pekerjaan di lapangan. Terlebih lokasi dimana petirtaan ditemukan, tanahnya cadas dan berlapis-lapis akibat erupsi Gunung Kelud.

"Harapan kami kedepan ini bisa menjadi tempat edukasi bagi kaum milenial biar dapat melihat secara langsung bagaimana nenek moyang kita dulu dalam berbudaya. Ini bisa menjadi salah satu peninggalan sejarah di lereng Gunung Kelud dimana banyak menyimpan sejarah era Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Majapahit," pungkasnya. (Kominfo/lks,dn,tee,wk)

Add comment


Security code
Refresh

banner