Senin, 23 Oktober 2017

Jadikan KIM Sebagai Sarana Penyebaran Informasi Positif

Penyelenggaraan Pekan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) - IX Jawa Timur memasuki hari kedua (13/9). Para penggiat dan anggota KIM se-Jawa Timur terlihat antusias mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Selain pameran dan Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura), di hari kedua Pekan KIM diselenggarakan Sarasehan KIM yang membahas isu kontemporer tentang KIM, serta merumuskan permasalahan sekaligus pemecahan masalah terkait dengan KIM.

sarasehan 3

Sarasehan diikuti oleh perwakilan KIM dari masing-masing Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Hadir pada acara ini Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Ir. Eddy Santoso, MM. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Pekan KIM dan kemajuan pemanfaatan teknologi yang sudah semakin merata di KIM seluruh Jawa Timur.

“Dari verifikasi tahun 2015, terdapat 1019 KIM di Jawa Timur. Setelah kita verifikasi ulang dari jumlah tersebut 319 KIM yang benar-benar jalan. Di sisi content/informasi, KIM di Jawa Timur sudah mampu mengambil alih celah yang belum dimanfaatkan media massa umum baik mainstream maupun online. Bahkan di beberapa wilayah, KIM sudah menjadi media jurnalisme, terbukti dari jumlah kunjungan pada web/blog yang mencapai ribuan pembaca, ada iklan komersial juga,” urainya.

sarasehan 1

Ia pun mengajak seluruh anggota KIM untuk menggunakan domain dalam negeri. Hampir semua blog/website yang telah dibuat menggunakan domain dari luar. “Tahukah bapak ibu semua, dari penggunaan server-server di luar, banyak devisa kita yang juga mengalir ke luar. Untuk itulah mari kita mulai membiasakan diri menggunakan produk-produk dalam negeri (.id). Mari kita tunjukkan KIM di Jawa Timur adalah KIM yang Indonesia banget,” katanya.

Bertindak sebagai narasumber pertama pada sarasehan ini Sekjen MUI Jawa Timur Ainul Yaqin, SSi. MSi. Apt. Ia mengupas tentang berita hoax yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat di segala usia. Perkembangan teknologi memberikan kemudahan untuk mengakses dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan, namun menurutnya masih banyak orang yang hanya menerima informasi kemudian menyebarkan kembali tanpa memverifikasi kebenaran informasi tersebut.

“Kita harus bersyukur hidup di era teknologi saat ini. Namun media yang harusnya menjadi sumber informasi, sekarang justru membuat kita bingung. Ada hoax, ada pencitraan berlebihan. Kesimpangsiuran terkadang menyesatkan dan menimbulkan kekacauan informasi. Terjadi distorsi informasi yang membuat kita bingung, ini mana yang benar,” jelasnya.

sarasehan 2

MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa dalam menggunakan media sosial harus berangkat dari prinsip keimanan dan ketaqwaan. Apapun yang diunggah di media sosial hendaknya mengajak pada kebaikan, melakukan klarifikasi sebelum menyebarkan informasi, tidak membuat berita bohong, ghibah, adu domba atau ujaran kebencian, serta memperhatikan manfaat dari informasi tersebut.

“Peran KIM sangat penting. Sebagai wadah bagi kelompok masyarakat informasi, saya berharap KIM menjadi sarana untuk menyampaikan informasi positif, informasi penyeimbang dan informasi yang mencerahkan,” pungkasnya.

sarasehan 4

Materi kedua disampaikan oleh Tri Hatmaningsih, selaku Editor Citizen Reporter (Cipo) di Harian Surya. Ia membagikan ilmu tentang kaidah penulisan dan tips agar sebuah tulisan menarik untuk dibaca. Beberapa tulisan pembaca yang dimuat di Harian Surya pun ditunjukkan, beserta kisah yang melatarbelakanginya. Seluruh peserta terlihat antusias, banyak pertanyaan dilontarkan terkait penulisan berita. Di akhir acara, Tri Hatmaningsih mengajak seluruh peserta untuk membuat tulisan tentang penyelenggaraan Pekan KIM ke-IX. Tiga tulisan yang menarik akan dimuat di Harian Surya pada rubrik Cipo. (Kominfo)

Add comment


Security code
Refresh