Kamis, 21 September 2017

Desa Toyoresmi Menuju Desa Labu Madu

One Village One Product. Atau Satu Desa Satu Produk adalah pendekatan pengembangan potensi desa untuk menghasilkan produk kelas global, yang unik khas daerah dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di desa tersebut.

labu madu 3Gerakan ini bisa diandalkan sebagai gerakan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat sesuai potensi dan keunggulan desa setempat. Oleh karena itu, Gerakan Satu Desa Satu Produk bisa dijadikan solusi untuk membuka lapangan kerja dan menggerakan perekonomian desa.

Adalah Desa Toyoresmi, tepatnya di Dusun Besuk berupaya menciptakan Branding sebagai One Village One Product atau Satu Desa Satu Produk. Berbekal keunggulan khas di daerah tersebut yaitu tanaman labu madu, warga bersama Pemerintah Kabupaten Kediri sepakat membangun ekonomi desa dengan menonjolkan potensi dan keungulan yang dimiliki.

“Desa ini kini memiliki 1400 tanaman labu madu yang dipusatkan berada di dusun besuk. Nantinya hasil panen labu madu ini akan diolah menjadi makanan produk UKM yang dapat memberi tambahan pendapatan bagi warga.” Jelas Gatot, pria yang menjadi actor dibalik Desa Toyoresmi menjadi sentra labu.

“Nilai ekonomisnya tinggi, bisa menghasilkan sekira Rp 50,000,- per tanaman dan bisa ditanam di lahan kosong warga. Usia panennya juga tidak lama. Sehingga sangat menguntungkan.” Imbuhnya.

labu madu 5

Nantinya bila desa ini menjadi sentra labu masyarakat selain mendapat pendapatan dari labu juga bisa dari wisata edukasi. Sehingga akan mendorong ekonomi kreatif di sekitar warga dengan penjualan produk UKM dan layanan akomodasi.” Gambarnya.

Gatot juga mendorong warga menciptakan produk khas berdaya saing tinggi dan berkualitas global berbahan dasar labu madu. Akhirnya dipilihlah pengembangan gethuk pisang labu dan kripik labu yang telah dijalankan olehnya selama sebulan terakhir.

Ternyata sambutannya luar biasa. Kebetulan di desa ini terdapat pusat oleh-oleh GTT yang mampu menjadi pasar untuk menjual kedua produk tersebut. Permintaannya akan getuk pisang lab uterus meningkat kendati harga justru diatas gethuk pisang umumnya.

“Setiap hari biasa menyediakan 60 gethuk pisang labu dan habis. Pada liburan atau kahir pecan lebih banyak lagi stoknya. Kata mereka rasanya lebih enak. Padahal harganya justru lebih mahal.“ tutur Gatot.

labu madu 2Pemilik pusat oleh-oleh GTT, Gatot, menjelaskan labu kini menjadi icon Desa Toyoresmi khususnya dusun besuk.. “Saat ini, Desa Toyoresmi masih bertumpu pada sektor pertanian. Harapan kedepan semoga tiang ekonominya ditunjang Usaha Kecil Menengah produk olahan berbahan dasar labu yang mampu menyerap tenaga kerja sekitar.” Tandas Gatot.

Sulis, salah satu petani labu dusun besuk, mengungkapkan keberhasilan sentra labu sebetulnya tidak lepas dari peran semua pihak. Baik Pemerintah Kabupaten Kediri melalui penyuluh pertanian lapangan yang ikut andil besar dalam membesarkan labu madu.

“Awalnya kami ikut pelatihan penanaman labu madu bersama PPL. Karena Kecamatan Ngasem merupakan sentra labu. Ternyata melihat potensinya kami mencoba dan selanjutnya cocok dikembangkan disini. Terlebih berapapun hasil panen sudah ada pihak yang siap membeli. Sehingga kami semangat dan tenang dalam mengembangkan labu.” Ujar Sulis.(Kominfo/yd,lk,wk).

Add comment


Security code
Refresh