Sabtu, 16 Desember 2017

Tempat Nyaman Pertama adalah Ibu

Kehidupan sebuah keluarga tidaklah selalu berjalan mulus dan tanpa masalah. Selalu ada hal-hal yang menjadi kerikil dalam perjalanannya. Terkadang, hal kecil bisa menjadi masalah besar. Diperlukan niat, kemauan dan kerjasama seluruh anggota keluarga untuk mengatasi berbagai problem dalam mewujudkan keluarga harmonis yang diinginkan oleh semua orang.

pendopo 2

Demikian disampaikan Vivi Rosdiana, S.Psi., seorang psikolog dan konsulat Dinsos eks psikotik. Dengan gaya bicara tegas, lantang, disertai dengan joke-joke segar, penjelasan ibu dua orang anak ini mampu menyedot perhatian ratusan ibu yang hadir di Pendopo Kabupaten Kediri, dalam rangka mengikuti Pondok Ramadhan 1428 H pada Kamis (8/6).

Mengangkat tema Psikologi Keluarga, Vivi menyampaikan beragam problematika yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, antar dua kepala saja bisa timbul masalah, apalagi jika lebih. “Beda orang bisa mempunyai atau menghadapi masalah yang sama, namun yang membedakannya adalah empati. Karena tidak semua orang punya empati yang sama dan cukup baik. Selain itu, bertambahnya usia belum tentu berbanding lurus dengan meningkatnya kematangan psikis seseorang, karena matang psikis lebih karena pengalaman dan pembelajaran dalam hidupnya” katanya.

pendopo 3

Pembahasan semakin menarik ketika Vivi menjelaskan peran penting seorang ibu. Di sela kesibukannya mengurus rumah tangga, seorang ibu harus memberi perhatian pada suami dan buah hati, serta menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. “Jadi ibu itu sulit, tidak ada sekolah atau pelajaran untuk menjadi ibu. Seorang ibu belajar dari pasangan, anak-anak dan keadaan,” tambahnya.

Yang istimewa, secara aspek psikologis kecerdasan bahasa seorang perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Dalam sehari laki-laki mengucapkan 5000-7000 kata, jauh dibandingkan perempuan yang mampu mengucapkan 24.000-50.000 kata. Inilah mengapa seorang ibu identik dengan cerewet.

pendopo 5

“Tapi ga pa-pa, karena cerewet biasanya untuk kebaikan keluarga. Yang harus diingat, kecerdasan bahasa ini harus dimanfaatkan menjadi cerewet yang positif. Begitu juga ketika emosi, keluarkan/luapkan kata-kata dengan persepsi positif. Contoh ketika anak berulah, biasanya langsung diomeli atau dimarahi. Alihkan misalnya dengan Ya Allah nak, kamu kok kreatif sekali, subhanallah.. Tidak mudah dan pasti sulit. Tapi semua pasti bisa, dan harus diasah,” urai Vivi.

Yang tidak kalah penting menurut Vivi adalah pemberian contoh yang baik kepada anak. Dengan contoh, mereka akan meniru dan belajar lebih cepat. Tingkat keberhasilannya pun lebih tinggi dibandingkan dengan kata-kata atau penjelasan panjang lebar. Dan apapun yang akan dilakukan seorang ibu, harus diawali dengan membentuk persepsi positif agar mendapatkan hasil yang positif pula.

pendopo 4

Di tengah penyampaian materi, ada kejadian ketika seorang anak manangis dan kebingungan mencari ibunya. Tidak hanya sekali, selang sekian menit berikutnya terjadi juga pada anak yang lain. Begitu bertemu dengan ibu, anak tersebut berhenti menangis dan kembali tenang. Menanggapi kejadian tersebut, Vivi pun menjelaskan bahwa sejauh apapun dan selama apapun jarak antara anak dan ibu, secerewet apapun seorang ibu, ia adalah sosok pertama yang dicari ketika anak dalam keadaan tidak nyaman. “Tempat nyaman pertama adalah ibu,” tegas Vivi.

Antusias dengan materi yang disampaikan, beberapa peserta Pondok Ramadhan menyampaikan permasalahan dan pertanyaan seputar keluarga, diantaranya tentang figur yang dicontoh anak ketika kedua orang tua bekerja, punishment dan reward pada anak, serta solusi jika terjadi KDRT. (Kominfo/tee, wk)

Add comment


Security code
Refresh

Agama dan Tokoh