Senin, 21 Agustus 2017

Kisah Eksistensi Topeng Ganongan Pamuji

Berbicara Bumi Panji Kediri tidak akan lepas dari garis tegas bahwa disinilah awal mula kebudayaan dan sejarah nusantara. Bahkan hingga sekarang, masyarakat kabupaten Kediri masih memegang kearifan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pamuji 1Salah satu heritage adiluhung khas Kabupaten Kediri adalah kesenian jaranan. Kesenian ini masih marak dipentaskan di setiap sudut wilayah Bumi Panji Kediri. Dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa mengenal umur dan status sosial.

Dari kearifan lokal tersebut masyarakat tidak hanya diberi ruang ekspresi seni dan budaya,namun juga mendapat nilai ekonomis dari pusaran rupiah di dalamnya. Baik dari transaksi ekonomi pedagang saat pementasan, juga efek meningkatnya permintaan produk kepada para pengrajin peralatan seni jaranan.

Pamuji 2Salah satunya adalah Pamuji. Pria 48 tahun ini sudah menggeluti usaha membuat topeng ganongan dan barongan selama 27 tahun. Lokasi workshopnya di Dusun Tumpang, Desa Purwodadi, Kecamatan Ringinrejo.

Pamuji bertutur, awal tahun 1989 dirinya memulai usaha cat semprot atau air brush. Seiring waktu, ia diminta salah satu pelaku seni jaranan untuk melukis topeng barongan dan ganongan. Ternyata karya Pamuji disukai dan disebarluaskan dari mulut ke mulut antar sesama seniman. Produk karyanya diakui para seniman jaranan Kediri dan sekitarnya termasuk kategori berkualitas tinggi.

Pamuji 3Oleh karena itu hasil karya Pamuji lebih sering digunakan para seniman daripada sekedar souvenir. Berbanding lurus dengan kualitasnya, harga yang dipatok pun menjadi sedikit lebih mahal.

“Untuk topeng ganongan dengan hiasan rambut jaran 600 ribu rupiah. Kalau dengan hiasan rambut sapi 300 ribu rupiah. Bahan pembuatannya dari kayu cangkring. Proses pembuatannya memakan waktu satu minggu,” terang bapak dua anak inikepada Kominfo Jumat (13/1).

Terkait program Pemkab Kediri melaksanakan Tari Kolosal 1000 Barong setiap Bulan Agustus, Pamuji merasa sangat bersyukur. Hal ini dikarenakan semenjak rutin dilaksanakan beberapa tahun terakhir, jumlah permintaan produk buatannya menjadi naik cukup signifikan.

“Sejak adanya gelaran pekan budaya, terutama ketika beberapa bulan sebelum tari 1000 barong, biasanya jumlah pesanan naik hingga lebih dari tiga kali lipat,” imbuhnya.

“Namun bagi saya pelaku seni, kebahagiaan sebenarnya adalah kesadaran dan kebanggaan akan seni tradisional warisan leluhur seperti seni jaranan ini tetap lestari. Masyarakat masih mecintai dan bangga akan seni jaranan. Itu saja,” tandasnya sembari tersenyum.(Kominfo)

Add comment


Security code
Refresh