Tuesday, 16 July 2019
Logobar1

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

Jl. Soekarno-Hatta No. 1 Kediri Telepon: 0354 689901-5

Kelud, Letusanmu Meninggalkan Keindahan

Pagi masih buta di area wisata Gunung Kelud. Jarum jam menunjukan pukul 05.00 WIB. Hawa udara sejuk berbalut kabut pekat pun turun menyeruak seolah menyambut kedatangan kami.

kelud1

Di pintu gerbang wisata sudah menunggu dengan senyum cerah, Bapak Sunawan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri. Hari ini beliau akan memandu rombongan dari Dinas Kominfo, Bagian Humas dan Protokol serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri naik menuju ke bibir kawah Gunung Kelud.

Perjalanan menuju kawah gunung kelud kali ini begitu berkesan. Ini dikarenakan rombongan ditantang adrenalinnya untuk melewati medan offroad and adventure. Tantangan lintasan basah sepanjang 16 Km cukup untuk menambah semangat mencapai puncak kelud.

Usai melibas offroad, perjalanan rombongan dilanjutkan naik menuju kawah gunung yang meletus eksplosif Bulan Februari Tahun 2014 lalu. Seperti kita ketahui, kala itu letusannya sanggup mengirimkan debu hingga DKI, jawa barat dan banten.

kelud2Di pintu gerbang terakhir memasuki puncak gunung kelud, rombongan bertemu dengan Budi Priyanto, petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Kelud. Budi lalu ikut memandu rombongan dikarenakan gunung berapi ini memang kawahnya disterilkan bagi mereka yang tidak berkepentingan.

Pria yang telah bertugas memantau gunung kelud sejak 2003 ini menjelaskan, untuk mencapai kawah kini jalannya sudah lebih baik. Kendati masih berupa tanah, namun dengan lebar 5 meter kini sudah bisa dilalui kendaraan dengan lancar.

“Perbaikan jalan menuju kawah dilakukan bukan untuk tujuan wisata. Namun mobilisasi alat berat guna menggali terowongan air ampera dan 7 A dan B. Selama ini sudah berhasil diketemukan terowongan Ganesha. Terowongan ini penting karena dapat mengurangi debit air dalam kawah. Karena air berlebihan dalam kawah dapat menambah tekanan di kawah yang dapat menyebabkan letusan dasyat.” Jelas Budi kepada Kominfo Rabu (16/12).

“Terowongan ini sudah dibuat sejak zaman penjajahan belanda. Yakni dibuat sejak tahun 1923. Karena sejak dahulu memang sudah disadari pentingnya membuat terowongan guna mengurangi debit air ini. sebelumnya ada 7 terowongan namun hingga letusan dahsyat tahun lalu tinggal tiga yang aktif. Yang lain tertimbun material vulkanik.” Paparnya.

kelud3Kendati begitu, Budi ‘pawang’ Gunung Kelud ini tetap memperbolehkan bagi wisatawan untuk melihat puncak dan kawah Gunung yang dulu bernama Kampud ini. Namun dengan syarat ditemani pemandu dan tidak turun ke zona bibir kawah.

“Silahkan dikunjungi boleh saja naik pucak kelud dan melihat kawah boleh tapi lewat atas (Puncak Gajahmungkur) dan ditemani pemandu. Satu pemandu maksimal diikuti 10 orang wisatawan.” Tutur Budi.

“Dari Puncak Gajahmungkur kelud tetap mempesona. Selain melihat kawah, wisatawan dapat melihat empat mata air yang menuruni batuan dan terkesan seperti air terjun. Namun perlu diperhatikan pula, ini musim penghujan. Bahaya yang ada di sini adalah sambaran halilintar. Karena di area puncak memang belum ada vegetasinya. Sehingga perlu hati-hati.” Kata pria asli Desa Sugihwaras ini. ( Kominfo )

Add comment


Security code
Refresh

banner