Rabu, 18 Oktober 2017

Orang Kota Buru Makanan Desa

Ampok 1Apa yang ada dalam benak anda tentang makanan tradisional Ampok? Beberapa orang beranggapan makanan yang sering disebut sego jagung ini sudah susah ditemukan dan kian tergeser dengan aneka makanan siap saji / modern.

Namun siapa sangka makanan yang berasal dari olahan jagung ini ternyata justru semakin moncer dan kian diminati oleh masyarakat. Kini makanan ndeso ini justru gencar dicari orang kota, untuk menjadi pilihan karbohidrat pengganti nasi.

Kabupaten Kediri memang terkenal akan hasil komoditas pertaniannya khususnya jagung. Oleh warga, jagung selanjutnya diolah menjadi ampok. Sejak zaman dahulu dan secara turun temurun ampok sudah menjadi makanan pokok sebagian masyarakat Kabupaten Kediri.

Ampok 2Salah satu pelaku UKM yang masih menekuni usaha pembuatan ampok adalah Suharmamik Yulianti warga Desa Nanggungan Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri. Dibantu 5 orang tenaga kerja, UKM yang juga merupakan binaan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri ini menghabiskan sedikitnya 20 kuwintal jagung per bulannya.

Dari jumlah bahan baku tersebut dapat dihasilkan ampok sebanyak 16 kuintal perbulan. "Semuanya habis diserap pasar. Pemasaran sampai beberapa kota sekitar Kediri juga Surabaya.

Ada juga salah satu pelanggan luar pulau yang secara rutin mengambil ampoknya yaitu dari Propinsi Riau. Orang kota sekarang banyak yang cari." jelas Mamik yang juga sebagai Juara 2 Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan se Kabupaten Kediri Tahun 2015 ini.

Usaha ampok ini diceritakan mamik justru berawal dari kisah sedih gagal panen yang dialaminya. Kala itu panen jagungnya teserang penyakit bulai. "Dari pada gak berguna lalu jagung bulai tadi dibuat ampok berdasar resep keluaga. Ketika dijual, ehh.. ternyata banyak yang menyukai bahkan pesan lagi untuk dibuatkan.” Kata mamik.

Ampok 3"Kebetulan warga di Desa Nanggungan merupakan mayoritas petani jagung. Sehingga kami tidak kesulitan memperoleh bahan memproduksinya. Ampok yang kami buat juga tidak menggunakan pengawet dan pewarna, tetapi bisa bertahan sampai 1 tahun." ujar istri Sujito ini.

Mamik mengemas ampoknya menjadi dua jenis. Pertama untuk kemasan dengan berat bersih 200 gr dihargai 2 rb rupiah dan 550 gr dihargai 5 rb rupiah. "Dari penjualan ampok tersebut bisa diperoleh keuntungan sebesar 50 persen. Alhmdulillah bisa membantu menambah keuangan keluarga." kata Mamik kepada Kominfo, Minggu (25/10).

Bagi anda yang berminat dengan ampok Ibu Mamik, dapat menghubungi melalui Hp. 085730837600. Atau datang langsung ke Dusun Ngandong Desa Nanggungan Kecamatan Kayenkidul Kabupaten Kediri. (Kominfo).

Add comment


Security code
Refresh

Liputan UKM