Kamis, 30 Oktober 2014
  • English
  • Mandarin

Situs Pornografi dan Anak-anak

Kita selalu membayangkan internet seperti sebuah lautan luas yang dipenuhi banyak sekali mutiara yang menunggu untuk ditemukan. Bagi anak-anak, internet juga bisa menjadi sebuah lautan yang dipenuhi hiu-hiu ganas dalam wujud pornografi.

Sebuah hasil survei tentang pornografi di kalangan anak-anak di laporkan oleh lembaga Third Way. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa anak-anak sangat rentan mengakses situs pornografi sejak berusia 11 tahun.

Bayangkan, pada tahun 1998 saja terdapat tidak kurang dari 14 juta situs porno milik pribadi. Sekarang jumlahnya sudah berlipat ganda hingga 420 juta, dan bukan tidak mungkin akan mencapai angka 1 miliar.

Hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata kalangan terbesar yang paling banyak mengakses situs-situs porno bukanlah remaja dewasa berusia 19-25 tahun, melainkan para ABG yang rata-rata berusia 12-17 tahun. Mereka yang notabene masih mencari jati diri itu secara tidak langsung menerima nilai-nilai yang salah, bahwa kecanduan situs pornografi adalah normal dan sudah lumrah.

Banyak diantara mereka yang berubah cara pemikiran dan perilakunya gara-gara sering membuka situs-situs porno. Sikap mereka terhadap gadis-gadis sebayanya pun sudah bergeser 360 derajat. Itu karena pornografi sangat merendahkan derajat kaum wanita.

Tidak mengherankan bila orang-orang yang sering mengakses situs porno biasanya hampir tidak punya rasa malu lagi. Pornografi bahkan sudah menjadi bahan tertawaan dalam acara-acara sitkom keluarga. Walaupun seks itu adalah hal yang alami, tetapi industri pornografi tidak pernah bertujuan mendidik orang tentang seks, melainkan mengeksploitasi seks demi alasan komersial belaka.

Pada tahun 2000, DirecTV, sebuah anak usaha dari General Motors (GM) dilaporkan sudah menjual film-film porno lebih banyak dibandingkan Larry Flynt (industri pornografi terbesar di Amerika). Betapa ironisnya, perusahaan sekelas GM yang memiliki visi menjamin keselamatan keluarga, bisa menjalankan usaha lain yang justru meracuni hati dan pikiran anggota keluarga. Akhirnya pada tahun 2003, GM menjual saham-sahamnya di DirecTV kepada Rupert Murdoch’s News Corp.

Masih banyak perusahaan berskala besar lainnya yang juga mengambil keuntungan dengan menyediakan layanan pornografi, termasuk AT&T, Time Warner, Comcast, Marriott International, Holiday Inn, Sheraton dan Hilton. Dan mereka semua tidak cukup bodoh untuk mempublikasikan hal tersebut dalam laporan keuangan tahunan mereka.

Akses kepada situs-situs porno juga sangat mudah. Hampir semua situs porno menggunakan sebuah sistem yang bisa dimanipulasi oleh siapapun, termasuk anak kecil sekalipun. Biasanya para pengunjung situs-situs porno akan dimintai konfirmasi bahwa mereka berusia minimal 18 atau 21 tahun, tergantung di negara mana mereka tinggal. Tentu saja anak-anak dapat membodohi sistem yang sangat sederhana seperti itu.

Lalu ada pula sistem ‘porn-napping’ yaitu sebuah strategi program internet yang dirancang untuk menjerumuskan anak-anak. Sehingga apabila mereka salah mengeja nama domain seperti Disneyland, Pokemon atau Teletubbies, mereka bisa saja langsung terkoneksi dengan beragam situs porno yang tidak karu-karuan.

Pada saat artikel ini ditulis, masih sangat banyak halaman-halaman pornografi yang diposting melalui internet. Semua ini mengarah pada satu pertanyaan besar: Apa yang anak-anak Anda lihat lewat internet di dalam atau di luar rumah, dan apa rencana Anda untuk mengarahkan mereka supaya tidak menjadi pecandu pornografi?